Sunday, May 10, 2020

PEREMPUAN BERDEMOKRASI


ANGGIA WARDANI SAFITRI

KETUA KOPRI RAYON KHALID BIN WALID

    Perempuan merupakan salah satu ciptaan tuhan dengan segala bentuk keindahannya untuk menjadi pelengkap kebutuhan nabi adam dahulu dengan hadirnya ibu kita hawa, serta karakteristik yang melekat dalam diri perempuan  bahwa kelembutan dengan segala bentuk kehormatan yang menjdi hakikat dan menjadi kekukuhan martabat dalam diri perempuan itu sendiri yang sudah tertuang sejak pengilhaman dan tanpa kita pungkiri bersama bahwa kehadiran kedua biologisnya sejak awal sudah membentuk indikasi pengenalan dan pemahaman yang berbeda diataranya. 
    Namun pada hari ini Perempuan bukan lagi harus berekspremental seperti apa yang di perjuangkan oleh ibu kartini tentang bagaimana mendapatkan sebuah “kebebasan” dengan segala bentuk kemauan untuk merevolusionerkan   konsep dan struktur sosial dalam mencari lembaga-lembaga kehidupan yang sebenarnya untuk dilaksanakan oleh seorang perempuan itu sendiri. Namun bagaimana perempuan hari mampu menyesuaikan dengan zamannya dalam bertindak  tentang bagaimana harus mempertahankan apa yang sudah di di kobarkan oleh perempuan-perempuan hebat pada masanya saat itu. tentang peradaban tersebut bagaimana kondisi gender indonesia pada saat itu memang harus betul-betul bersigap dan bersijingkat dengan konsep keetelektual yang keras. Perempuan demokrasi hari ini sudah bisa uraikan dengan penuh keyakinan bahwa perempuan hanya tinggal mengembangankan apa-apa yang di bangun idiologi oleh para pahlawan gender tentang paradigma domokrat, mengenai kebebasan dalam pengambilan keputsan nasional maupun kesejahteraan sesama kaumnya dengan tetap menanamkan kepercayaan bahwa apa yang kita tuangkan melalui ide gagasan dengan telalah yang baik maka kita akan memperoleh hasil yang sesuat ketetapan pada hakikatnya.

    Dan yang harus di pertahankan lagi oleh perempuan adalah kultur tentang bagaimana wanita bersikap sesuai dengan kontrat lahirnya agar dalam pencarian jati dalam diri wanita yang sebenarnya tidak hancur dan terhinakan oleh tindakan yang di lakukannya sendiri karena hanya tidak sadar harus bagaimana kedudukan wanita baik dalam konteks agama, sosial, pendidikan, dan memperjuangkan ketahan bangsa dan negara. Selanjutnya ialah perempuan bagaimana harus mampu menciptakan sepak terjang baru yang lebih produktivitas yang sekiranya menunjang terhadap ketahanan kaum perempuan meskipun tidak akan pernah selesai perdepatan terhadap pro dan kontra atas perbedaan yang ada khususnya gender. Meski demokrasi tidak menjamin tidak akan selalu menjamin kebebasan perempuan namun setidaknya perempuan mampu mendemonstrasikan dirinya sendiri sebelum halak umum. 


JADILAH BUNGA REVOLUSI

YANG HARUMNYA SAMPAI MERUBAH

PERADABAN..........!



No comments:

Post a Comment

Pertambangan Ilegal, Bosissme, dan hegemoni kaum elit (Manfaat untuk siapa? derita untuk siapa?)

   Indonesia seringkali disebut “tanah surga”, negara agraris dengan letak geografis yang strategis dengan luas sekitar 1.919.440 km. Memi...