Wednesday, April 29, 2020

Strategi KOPRI Dalam Pengembangan Perempuan Ditengah Pandemi COVID-19 oleh Ketua Kopri Jatim (writing from desita_dwd)



Strategi KOPRI Dalam Pengembangan Perempuan Ditengah Pandemi COVID-19
Oleh: Dini Adhiyati (Torcatoran Abhereng KOPRI) 


      Saat ini kita dibenturkan dengan permasalahan pandemi yaitu COVID-19, dimana COVID-19 merupakan wabah nasional. Banyak sekali yang dirugikan oleh pandemi ini baik dibidang politik, ekonomi dan sosial masyarakat. Pada tanggal 27 April 2020 KOPRI PC. PMII Pamekasan mengadakan kajian secara online atau disebut dengan “Torcatoran Abhereng KOPRI” dimana pemateri dalam kajian ini adalah ketua KOPRI PKC. PMII Jawa timur yaitu Dini Adhiyati dengan tema “Strategi KOPRI Dalam pengembangan pemberdayaan Ekonomi Perempuan Ditengah Pandemi COVID-19.”
     Dalam hal ini pemateri meyampaikan musibah pandemi hari ini adalah musibah yang real kita hadapi, tentunya ada dampak positif dan negatif. Dampak positif dari pamdemi ini yaitu kita bisa beribadah dengan khusuk terutama di bulan ramadhan dengan keluarga dirumah, diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga atau quality time, sadar akan kebersihan dan kesehatan, dan dalam hal pendidikan yaitu kuliah atau sekolah yang diahlikan menjadi sekolah atau kuliah virtual kita bisa mendapatkan materi lebih banyak lagi dirumah tetapi kelemahannya tidak bisa mendapatkan materi secara langsung dari ahlinya. Sedangkan dampak negatifnya menyentuh hampir semua bidang mulai dari bidang ekonomi yaitu melemahnya nilai rupiah, harga bahan pokok melambung naik, bidang pendidikan dimana sistem belajar mengajar dialihkan me jadi sistem daring yang dinilai kurang efektif, serta bidang-bidang lain utamanya bidang kesehatan. Kondisi ini mendesak kita untuk tanggap mencari solusi dan juga memikirkan apa saja  peran dan strategi yang bisa dilakukan oleh seorang kader kopri.
       Keppres 12 tahun 2020 menetapkan peraturan mengenai bencana non alam penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional yang ditetapkan oleh Presidem Joko Widodo dijakarta pada tanggal 13 April 2020 dan sejalan dengan itu pemerintah menambah belanja dan pembiayaan dalam APBN 2020 untuk penanganan COVID-19 sebesar 405,1 triliun dan alokasinya terbagi dalam beberapa pos. Selain itu juga dibidang kesehatan juga mendapatkan anggaran senilai 75 triliun dan jarring pengaman sosial sebanyak 110 triliun. Sedangkan insentif perpajakan dan stimulus KUR memperoleh alokasi Rp 70,1 triliun dan pembiayaan program pemulihan ekonomi sebesar 150 triliun, anggaran dana ini dikhususkan untuk golongan miskin dan usaha yang terdampak covid-19. Anggaran fisikal sekitar 405,1 triliun dengan alokasi dana untuk kesehatan, jaringan pengaman sosial yaitu seperti sembako dan kartu prakerja, belum lagi dana alokasi dana lainnya seperti UN ditiadakan, pemilu dan program lain untuk dialokasikan pada covid 19. Bantuan dari pusat yang turun kedaerah itu juga dipotong untuk  penanganan covid-19 baik di provinsi maupun kota dan kabupaten. Dari data tersebut Indonesia termasuk Negara yang berani  untuk mengambil dana dengan jumlah sebanyak 400 trillyun lebih untuk pandemi ini.
    Dalam berbagai sektor, perempuan sangat merasakan dampak negatifnya misal pada sektor pendidikan, semua mahasiswa perantauan dikembalikan kerumah, bagi mahasiswa yang ada didesa dimana tidak ada jaringan dan juga masih mengeluarkan uang tambahan dana untuk membeli data internet kuliah virtual dan masih banyak lagi. Dalam bidang sosial dan budaya masyarakat dibatasi untuk melakukan komunikasi secara langsung sesuai dengan anjuran WHO yaitu Physical Distancing. Lalu terkait dengan hukum, perempuan mengalami double barden dan tingkat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) meningkat. Selain itu anak yang sekolahnya dialihkan ke sekolah daring dikontrol oleh orang tuanya dan kebanyakan yang mengontrol adalah seorang ibu dan dimana ibu tersebut juga masih dibenturkan dalam mengerjakan pekerjaan domestic maupun pekerjaannya sendiri. Selanjutnya tingkat KDRT dan kekerasan seksual yang meningkat yang dipicu oleh strees dan juga kebosanan, hal tersebut rentan sekali untuk melampiaskannya terhadap orang-orang terdekat atau disekitar kita sehingga terjadi kekerasan seksual dan KDRT. Hal ini paling berdampak pada kelompok rentan yaitu perempuan, anak, lansia dan juga penyandang disabilitas. Selanjutnya pada bidang ekonomi yaitu banyak sekali PHK, dari data kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak mengungkap dari jumlah pekerja yang terkena PHK 31% adalah kaum perempuan atau sebanyak 762 kaum perempuan yang mengalami dampak pandemi ini. 
    Pandemi bukan alasan bagi Kader Kopri untuk berleha-leha menikmati seruan hastag dirumah saja. Kita harus sigap merancang strategi serta solusi dalam menghadapi pandemi yaitu pertama upaya kaderisasi harus tetap berlangsung meskipun melalui media online yang terkesan kurang efektif, namun hal itu adalah langkah alternatif selama pandemi berlangsung untuk tetap melakukan upaya kaderisasi.
      Kedua, bagi kader kopri yang ada didesa harus membuat konsep ketahanan pangan, kita harus bisa mengkoordinir masyarakat setempat meskipun hasil pertanian tidak bisa dijual langsung setidaknya ada inovasi untuk mempertahankan ketahanan pangan kita. Yang kedua untuk kader kopri yang urban di perkotaan yaitu dengan melakukan konsep kemandirian ekonomi dengan memperdayakan UMKM yang ada daerah masing-masing. Ketiga, sebagai seorang agen of control kita harus mengkawal kebijakan pemerintah agar berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya beberapa dana yang turun didaerah yang nominalnya cukup besarbukan tidak mungkin menjadi sasaran empuk para tuan korup. Sebagai anggota maupun kader KOPRI  harus mengawal agar tepat sasaran bukan hanya untuk oknum birokrasi saja. Sebagai Mahasiswa, aktivis dan juga agen of change kita tidak boleh diam melihat hirup pikuk yang sudah tidak terkontrol dan tidak masuk akal, dimana seharusnya terbuka, real dan tidak boleh di dramatisir sehingga menimbulkan kepanikan. Keempat, kita sebagai kader KOPRI harus bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Banyak sekali dokter dan praktek-praktek kesehatan lainnya yang menolak pasien karena mereka takut dan waswas. Kemudian terkait dengan data yang kurang jelas mengenai pasien yang positif dan sehat dari korona, bukan hanya katanya atau misalnya tetapi kita membutuhkan data yang jelas yaitu bukan hanya angka tetapi disebutkan nama dan keluarganya harus jelas sehingga bisa melakukan isolasi madiri dan karantina dirumah untuk berjaga-jaga. Tidak hanya itu pasien yang sembuh juga diumumkan. Dan bagi warga desa penyakit corona merupakan aib, ketika mereka sedang flu dan panas mereka takut untuk memeriksakan diri karena menganggapnya aib. Hal itu menunjukkan pentingnya edukasi terhadap masyarakat agar tidak timbul kepanikan yang justru menimbulkan masalah lainnya. Sebagai kader KOPRI juga harus bekerja sama dengan pemerintah dan berperan aktif dalam menanggulangi pandemi covid-19.
     Selanjutnya bagaimana cara memperdayakan gerak perempuan dimana hari ini ruang gerak perempuan dibatasi kita tidak bisa berkomunikasi langsung. Disini dengan pemberdayaan perempuan jika kita benar benar niat mau membantu masyarakat kita harus punya gagasan dan juga data terpadu keluarga miskin misalnya karyawan toko, tukang ojek, buruh tani dan kelompok-kelompok yang terdampak COVID-19. Karena banyak sekali kartu keluarga yang diminta tetapi samapai hari ini BLT (Biaya Langsung Tunai) yang turun ada yang berupa uang tunai dan sembako, tetapi hanya beberapa paket saja  per-kelurahan dan tidak jelas data yang dialokasikan. Jika kita peduli karena yang banyak mendapatkan BLT tersebut adalah perempuan kita harus mempunyai data tersebut. Kedua, kita harus bisa memberikan rekomendasi kepada gugus tugas untuk melakukan penggandaan alat kesehatan seperti masker, sanitizer yang sesuai dengan program BNPB. Kita sebagai kader PMII yaitu sesuai yang diajarkan di dalam PMII Aswaja dan nilai dasar pergerakan hablum minannas dan toleransi kita harus memberikan rekomendasi tersebut. Ketiga yaitu membuat dapur umum yang diberikan kepada masyarakaatau ibu-ibu, baik yang kehilangan pekerjaan dan pengangguran untuk diberikan tugas mengenai dapur umum tersebut agar mereka mendapatkan penghasilan.
     Kemudian tentang perberdayaan dalam bidang ekonomi yaitu kopri harus mempunyai inovasi dan harus tahu kondisi yang sesuai dengan daerah masing-masing dengan mengetahui peta masyarakat. Kita sebagai Mahasiswa dan juga aktivis setelah kembali kerumah kita jangan hanya jago di struktural saja tapi harus berinovasi pada masyarakat. Hari ini pendapatan aplikasi tiktok, instagram dan lain-lain meningkat. Mengapa kita tidak memanfaatkan sosial media dan aplikasi online untuk mencoba menjual sembako seperti contoh dilampung membuat aplikasi dimana pedagang-pedagang dipasar menjual dagangannya tersebut dengan delivery online dan banyak sekali peminat pembeli dan ini termasuk kemandirian ekonomi. Sebelum kita membantu masyarakat dan memberdayakan perempuan lain kita terlebih dahulu menyeleasaikan diri kita dulu atau memberdayakan diri kita sendiri. 
      Jadi tidak semua opsi-opsi tadi dilakukan tetapi alangkah baiknya dicoba terlebih dahulu dan kita seharusnya terlebih dahulu mengecek peta masyarakat dan menyesuaikan secara kebutuhan masyarakat. Sebelum kita memberdayakan orang lain alangkah  baiknya kita terlebih dahulu memberdayakan diri sendiri. Peran PMII dan KOPRI sangat penting dimana PMII untuk rakyat dan juga harus memberikan inovasi dan terobosan baru untuk mengahadapi pandemi COVID-19.


Penulis  : Desita_dwd
Editor     : Ochaaa SR

Friday, April 17, 2020

60Th PMII ditengah pandemi, membangun harmoni kaderisasi digital dan edukasi.


Nafas semangat pengkaderan masih terus menggebu dalam diri PMII. Mengingat Usia 60Th ini bukan usia yang singkat. Didirikan di Surabaya pada tanggal 21 syawal 1379 H, yang bertepatan tanggal 17 April 1960 artinya sudah separuh abad lebih PMII sebagai organisasi kemahasiswaan tetap teguh berdiri menjadi garda terdepan Pembela Bangsa, Penegak Agama. PMII telah melewati pasang surut organisasi, PMII terus menerus melakukan upaya perbaikan baik secara struktural maupun kultural. selayaknya sebuah kematangan usia, semakin bertambah maka bertambah pula tantangan yang harus ia hadapi. selain tantangan internal PMII sendiri, PMII dihadapkan dengan tantangan eksternal yg bersifat global yakni pandemi. berulang tahun ditengah pandemi terpaksa meredam keinginan untuk melakukan perayaan khusus. Lebih dari itu yang cukup mengkhawatirkan adalah mandeknya proses kaderisasi ditengah pandemi covid-19. Dapat ketahui bahwa jantung organisasi adalah perkaderan. Secara filosofis, pengkaderan PMII hendak menciptakan manusia merdeka (independent), sementara proses pengkaderan itu menuju pada satu titik, yakni mencipta manusia Ulul Albab.
Sistem pengkaderan PMII adalah upaya pembelajaran yang terarah, terencana, sistematis, terpadu, berjenjang dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi, mengasah kepekaan, melatih sikap, memperkuat karakter, dan memperluas wawasan agar menjadi manusia yang santun, cerdik, cendikia, terampil dan siap menjalankan roda organisasi untuk mencapai cita-cita perjuangannya. Ada lima argumentasi mengapa harus ada pengkaderan. Pertama, sebagai pewarisan nilai-nilai (argumentasi idealis). Kedua, pemberdayaan anggota (argumentasi strategis). Ketiga, memperbanyak anggota (argumnetasi praktis). Keempat, persaingan antar kelompok (argumentasi pragmatis) dan yang kelima sebagai mandataris organisasi (argumnetasi administrative).
Namun dengan mewabahnya pandemi Covid-19 yang ada di Indonesia, Pengurus Besar PMII menghimbau Penundaan Pelaksanaan Aktivitas Pengkaderan melalui surat yang diedarkan beberapa waktu lalu, dimana seluruh elemen/stake holder di PMII untuk MENUNDA seluruh aktivitas perkaderan yang mengundang kumpulan orang sampai situasi aman dan ada petunjuk selanjutnya.
hal ini menuntut PMII harus bisa segera beradaptasi dengan situasi yang mendesak agar upaya kaderisasi terus berjalan. Formula kaderisasi yang inovatif dan kreatif sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini agar kaderisasi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Anggota dan kader tetap mendapatkan haknya dalam keilmuan dan nilai-nilai organisasi. Seruan publik yakni hastag dirumah saja seharusnya bukan menjadi sebuah boomerang bagi PMII untuk tetap mempersiapkan embrio yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Saat ini adalah era digital, bukan lagi primitif. Indonesia diklaim sebagai raksasa teknologi digital Asia dengan jumlah pengguna seluler diprediksi meningkat menjadi 265,3 Juta di tahun 2019 dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (Compound Annual Growth Rate), disingkat CAGR 4,77 persen. Sementara untuk pengguna Smartphone diperkirakan meningkat menjadi 140,4 Juta di tahun 2019 (CAGR 26,17 persen). Begitu pun untuk penggunaan internet akan meningkat hingga 178,4 Juta tahun 2019 mendatang (CAGR 12,8 persen). Sementara untuk pengguna mobile internet diprediksi menjadi 89,4 Juta (2019) dengan CAGR 9,23 persen. Hal itu diungkapkan oleh Dimitri Mahayana, Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB yang juga dalam hal ini sebagai Data Scientist Sharing Vision. Dengan begitu bukan menjadi hal yang tidak mungkin melakukan upaya kederisasi digital. PMII bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai upaya pengkaderan, diimbangi dengan berbagai stimulus juga rangsangan motivasi sebagai dorongan kembalinya iklim yang kaderisasi yang masif. Kaderisasi berbasis digital dapat dikemas dengan berbagai konten yang relevan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi. Metode lama seperti ceramah dan tatap muka dapat diganti dengan metode daring, diskusi online, dan memperkaya karya tulis sehingga menciptakan iklim baca yang baik. Metode ini sebagai salah satu langkah alternatif juga solutif terhadap upaya kaderisasi selama pandemi ini.
Selain itu PMII juga harus hadir ditengah masyarakat sebagai intermediary antara pemerintah dan masyarakat. bagaimana PMII harus memberi contoh yang baik dan melakukan edukasi yang berkaitan dengan pandemi ini. mengingat PMII sebagai organisasi cukup dekat dengan masyarakat, hal tersebut bisa dimulai dari internal struktural ataupun edukasi perorangan. kader PMII harus memiliki keluasan pemahaman dan informasi terkait pandemi ini secara update. Tidak sedikit masyarakat yang masih salah tafsir tentang pandemi covid-19 ini, berbagai tuduhan dan kecurigaan terhadap berbagai elemen masih gencar ditemui. Tugas kita sebagai kader PMII adalah meluruskan pemahaman masyarakat tentang pandemi covid-19, kita juga harus saling merangkul dan percaya untuk menghadapi ujian ini bersama-sama. Bagaimana kita sebagai anggota dan kader PMII paham terhadap pencegahan penularan dan membantu memutus rantai penularan. Meskipun secara sistem pemerintah telah berupaya meluncurkan kebijakan untuk memutus mata rantai penularan, namun pada realisasinya masih ditemukan banyak kendala. PMII sebagai organisasi kaderisasi dengan basis massa terbesar di Indonesia dengan ribuan kader yang tersebar diseluruh nusantara dan itu bisa menjadi salah satu penopang untuk terus melakukan komunikasi secara masif dengan berbagai macam pihak. Sehingga. besarnya massa yang dimiliki, menuntut PMII harus mampu secara masif untuk memutus rantai penularan covid-19.
Semoga kader dan anggota PMII diberikan kesehatan, keberkahan, berpikir kritis dan inofatif. Dan jangan lupa, tetap produktif meski di tengah pandemi.

oleh: KOPRI PC Pamekasan

Pertambangan Ilegal, Bosissme, dan hegemoni kaum elit (Manfaat untuk siapa? derita untuk siapa?)

   Indonesia seringkali disebut “tanah surga”, negara agraris dengan letak geografis yang strategis dengan luas sekitar 1.919.440 km. Memi...