Strategi KOPRI Dalam Pengembangan Perempuan Ditengah Pandemi COVID-19
Oleh: Dini Adhiyati (Torcatoran Abhereng KOPRI)
Saat ini kita dibenturkan dengan permasalahan pandemi yaitu COVID-19, dimana COVID-19 merupakan wabah nasional. Banyak sekali yang dirugikan oleh pandemi ini baik dibidang politik, ekonomi dan sosial masyarakat. Pada tanggal 27 April 2020 KOPRI PC. PMII Pamekasan mengadakan kajian secara online atau disebut dengan “Torcatoran Abhereng KOPRI” dimana pemateri dalam kajian ini adalah ketua KOPRI PKC. PMII Jawa timur yaitu Dini Adhiyati dengan tema “Strategi KOPRI Dalam pengembangan pemberdayaan Ekonomi Perempuan Ditengah Pandemi COVID-19.”
Dalam hal ini pemateri meyampaikan musibah pandemi hari ini adalah musibah yang real kita hadapi, tentunya ada dampak positif dan negatif. Dampak positif dari pamdemi ini yaitu kita bisa beribadah dengan khusuk terutama di bulan ramadhan dengan keluarga dirumah, diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga atau quality time, sadar akan kebersihan dan kesehatan, dan dalam hal pendidikan yaitu kuliah atau sekolah yang diahlikan menjadi sekolah atau kuliah virtual kita bisa mendapatkan materi lebih banyak lagi dirumah tetapi kelemahannya tidak bisa mendapatkan materi secara langsung dari ahlinya. Sedangkan dampak negatifnya menyentuh hampir semua bidang mulai dari bidang ekonomi yaitu melemahnya nilai rupiah, harga bahan pokok melambung naik, bidang pendidikan dimana sistem belajar mengajar dialihkan me jadi sistem daring yang dinilai kurang efektif, serta bidang-bidang lain utamanya bidang kesehatan. Kondisi ini mendesak kita untuk tanggap mencari solusi dan juga memikirkan apa saja peran dan strategi yang bisa dilakukan oleh seorang kader kopri.
Keppres 12 tahun 2020 menetapkan peraturan mengenai bencana non alam penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional yang ditetapkan oleh Presidem Joko Widodo dijakarta pada tanggal 13 April 2020 dan sejalan dengan itu pemerintah menambah belanja dan pembiayaan dalam APBN 2020 untuk penanganan COVID-19 sebesar 405,1 triliun dan alokasinya terbagi dalam beberapa pos. Selain itu juga dibidang kesehatan juga mendapatkan anggaran senilai 75 triliun dan jarring pengaman sosial sebanyak 110 triliun. Sedangkan insentif perpajakan dan stimulus KUR memperoleh alokasi Rp 70,1 triliun dan pembiayaan program pemulihan ekonomi sebesar 150 triliun, anggaran dana ini dikhususkan untuk golongan miskin dan usaha yang terdampak covid-19. Anggaran fisikal sekitar 405,1 triliun dengan alokasi dana untuk kesehatan, jaringan pengaman sosial yaitu seperti sembako dan kartu prakerja, belum lagi dana alokasi dana lainnya seperti UN ditiadakan, pemilu dan program lain untuk dialokasikan pada covid 19. Bantuan dari pusat yang turun kedaerah itu juga dipotong untuk penanganan covid-19 baik di provinsi maupun kota dan kabupaten. Dari data tersebut Indonesia termasuk Negara yang berani untuk mengambil dana dengan jumlah sebanyak 400 trillyun lebih untuk pandemi ini.
Dalam berbagai sektor, perempuan sangat merasakan dampak negatifnya misal pada sektor pendidikan, semua mahasiswa perantauan dikembalikan kerumah, bagi mahasiswa yang ada didesa dimana tidak ada jaringan dan juga masih mengeluarkan uang tambahan dana untuk membeli data internet kuliah virtual dan masih banyak lagi. Dalam bidang sosial dan budaya masyarakat dibatasi untuk melakukan komunikasi secara langsung sesuai dengan anjuran WHO yaitu Physical Distancing. Lalu terkait dengan hukum, perempuan mengalami double barden dan tingkat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) meningkat. Selain itu anak yang sekolahnya dialihkan ke sekolah daring dikontrol oleh orang tuanya dan kebanyakan yang mengontrol adalah seorang ibu dan dimana ibu tersebut juga masih dibenturkan dalam mengerjakan pekerjaan domestic maupun pekerjaannya sendiri. Selanjutnya tingkat KDRT dan kekerasan seksual yang meningkat yang dipicu oleh strees dan juga kebosanan, hal tersebut rentan sekali untuk melampiaskannya terhadap orang-orang terdekat atau disekitar kita sehingga terjadi kekerasan seksual dan KDRT. Hal ini paling berdampak pada kelompok rentan yaitu perempuan, anak, lansia dan juga penyandang disabilitas. Selanjutnya pada bidang ekonomi yaitu banyak sekali PHK, dari data kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak mengungkap dari jumlah pekerja yang terkena PHK 31% adalah kaum perempuan atau sebanyak 762 kaum perempuan yang mengalami dampak pandemi ini.
Pandemi bukan alasan bagi Kader Kopri untuk berleha-leha menikmati seruan hastag dirumah saja. Kita harus sigap merancang strategi serta solusi dalam menghadapi pandemi yaitu pertama upaya kaderisasi harus tetap berlangsung meskipun melalui media online yang terkesan kurang efektif, namun hal itu adalah langkah alternatif selama pandemi berlangsung untuk tetap melakukan upaya kaderisasi.
Kedua, bagi kader kopri yang ada didesa harus membuat konsep ketahanan pangan, kita harus bisa mengkoordinir masyarakat setempat meskipun hasil pertanian tidak bisa dijual langsung setidaknya ada inovasi untuk mempertahankan ketahanan pangan kita. Yang kedua untuk kader kopri yang urban di perkotaan yaitu dengan melakukan konsep kemandirian ekonomi dengan memperdayakan UMKM yang ada daerah masing-masing. Ketiga, sebagai seorang agen of control kita harus mengkawal kebijakan pemerintah agar berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya beberapa dana yang turun didaerah yang nominalnya cukup besarbukan tidak mungkin menjadi sasaran empuk para tuan korup. Sebagai anggota maupun kader KOPRI harus mengawal agar tepat sasaran bukan hanya untuk oknum birokrasi saja. Sebagai Mahasiswa, aktivis dan juga agen of change kita tidak boleh diam melihat hirup pikuk yang sudah tidak terkontrol dan tidak masuk akal, dimana seharusnya terbuka, real dan tidak boleh di dramatisir sehingga menimbulkan kepanikan. Keempat, kita sebagai kader KOPRI harus bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Banyak sekali dokter dan praktek-praktek kesehatan lainnya yang menolak pasien karena mereka takut dan waswas. Kemudian terkait dengan data yang kurang jelas mengenai pasien yang positif dan sehat dari korona, bukan hanya katanya atau misalnya tetapi kita membutuhkan data yang jelas yaitu bukan hanya angka tetapi disebutkan nama dan keluarganya harus jelas sehingga bisa melakukan isolasi madiri dan karantina dirumah untuk berjaga-jaga. Tidak hanya itu pasien yang sembuh juga diumumkan. Dan bagi warga desa penyakit corona merupakan aib, ketika mereka sedang flu dan panas mereka takut untuk memeriksakan diri karena menganggapnya aib. Hal itu menunjukkan pentingnya edukasi terhadap masyarakat agar tidak timbul kepanikan yang justru menimbulkan masalah lainnya. Sebagai kader KOPRI juga harus bekerja sama dengan pemerintah dan berperan aktif dalam menanggulangi pandemi covid-19.
Selanjutnya bagaimana cara memperdayakan gerak perempuan dimana hari ini ruang gerak perempuan dibatasi kita tidak bisa berkomunikasi langsung. Disini dengan pemberdayaan perempuan jika kita benar benar niat mau membantu masyarakat kita harus punya gagasan dan juga data terpadu keluarga miskin misalnya karyawan toko, tukang ojek, buruh tani dan kelompok-kelompok yang terdampak COVID-19. Karena banyak sekali kartu keluarga yang diminta tetapi samapai hari ini BLT (Biaya Langsung Tunai) yang turun ada yang berupa uang tunai dan sembako, tetapi hanya beberapa paket saja per-kelurahan dan tidak jelas data yang dialokasikan. Jika kita peduli karena yang banyak mendapatkan BLT tersebut adalah perempuan kita harus mempunyai data tersebut. Kedua, kita harus bisa memberikan rekomendasi kepada gugus tugas untuk melakukan penggandaan alat kesehatan seperti masker, sanitizer yang sesuai dengan program BNPB. Kita sebagai kader PMII yaitu sesuai yang diajarkan di dalam PMII Aswaja dan nilai dasar pergerakan hablum minannas dan toleransi kita harus memberikan rekomendasi tersebut. Ketiga yaitu membuat dapur umum yang diberikan kepada masyarakaatau ibu-ibu, baik yang kehilangan pekerjaan dan pengangguran untuk diberikan tugas mengenai dapur umum tersebut agar mereka mendapatkan penghasilan.
Kemudian tentang perberdayaan dalam bidang ekonomi yaitu kopri harus mempunyai inovasi dan harus tahu kondisi yang sesuai dengan daerah masing-masing dengan mengetahui peta masyarakat. Kita sebagai Mahasiswa dan juga aktivis setelah kembali kerumah kita jangan hanya jago di struktural saja tapi harus berinovasi pada masyarakat. Hari ini pendapatan aplikasi tiktok, instagram dan lain-lain meningkat. Mengapa kita tidak memanfaatkan sosial media dan aplikasi online untuk mencoba menjual sembako seperti contoh dilampung membuat aplikasi dimana pedagang-pedagang dipasar menjual dagangannya tersebut dengan delivery online dan banyak sekali peminat pembeli dan ini termasuk kemandirian ekonomi. Sebelum kita membantu masyarakat dan memberdayakan perempuan lain kita terlebih dahulu menyeleasaikan diri kita dulu atau memberdayakan diri kita sendiri.
Jadi tidak semua opsi-opsi tadi dilakukan tetapi alangkah baiknya dicoba terlebih dahulu dan kita seharusnya terlebih dahulu mengecek peta masyarakat dan menyesuaikan secara kebutuhan masyarakat. Sebelum kita memberdayakan orang lain alangkah baiknya kita terlebih dahulu memberdayakan diri sendiri. Peran PMII dan KOPRI sangat penting dimana PMII untuk rakyat dan juga harus memberikan inovasi dan terobosan baru untuk mengahadapi pandemi COVID-19.
Penulis : Desita_dwd
Editor : Ochaaa SR

