Wednesday, May 20, 2020

PEREMPUAN ANTARA IDEALITAS DAN REALITAS


  Berbicara mengenai perempuan sepertinya tidak akan ada keringnya, baik perempuan dijadikan sebagai objek  atau subjek kajian. Realitasnya, perempuan selama ini seringkali hanya dijadikan objek ‘eksploitasi’ dari aspek kesehatan, ekonomi, politik, biologis, psikologis, keagamaan, dan sebagainya. 

  Perempuan dalam kehidupan sosial selalu diasumsikan sebagai the second sex yang sangat menentukan mode representasi sosial tentang status dan peran perempuan. Akibatnya marginalisasi perempuan yang kemudian menunjukkan bahwa perempuan tidak sebatas the second sex, tetapi sudah dianggap sebagai the others. Dikotomi nature dan culture, atau istilah lain nurture, misalnya, telah digunakan untuk menunjukkan pemisahan dan stratifikasi di antara dua jenis kelamin. Secara de jure tidak ada hambatan struktural bagi perempuan untuk menjadi setara dengan laki-laki, termasuk yang menyangkut faktor keragaman biologis. Di sisi lain secara de facto, banyak perempuan yang secara sukarela tidak dapat melepaskan faktor biologisnya (aspek kodrati), terutama yang berkaitan dengan aspek reproduksi. 

   Walaupun demikian, faktor ‘sukarela’ itu pun didasarkan dan dilatar belakangi budaya dan keagamaan yang menuntut sedemikian rupa. Padahal islam secara ideal membuka kesempatan dan peran yang setara bagi laki-laki dan perempuan untuk mengekspresikan dan menginterpresentasikan dirinya dalam berbagai bidang kehidupan serta selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Sehingga tidak ada lagi persoalan gender inequality jika dilihat dai sudut pandang kualitas dan kapasitas.

  Peran dan hak perempuan pada tataran realitas masih cukup belum terpenuhi secara maksimal. Dikarenakan budaya patriarki masih membayangi hidup perempuan. Entah itu berbentuk deskriminasi, pelabelan negatif (stereotype), marginalisasi, subordinatsi, maupun kekerasan. Sedangkan secara idealitas, perempuan  mempunyai hak untuk setara dengan laki-laki, baik secara kultural, politik, kesehatan, ekonomi, pendidikan, maupun religiousitas. 

   Dengan demikian kader kopri sudah semestinya membaca dan menempati peluang yang ada saat ini, tidak hanya gaya penampilan atau perasaan saja yang diurusi, akan tetapi juga harus memiliki exitensi dan value justice yang tinggi.


oleh: Ike Nurjanah (Ketua Kopri Rayon Ibnu Aly Komisariat IAI al-Khairat)

No comments:

Post a Comment

Pertambangan Ilegal, Bosissme, dan hegemoni kaum elit (Manfaat untuk siapa? derita untuk siapa?)

   Indonesia seringkali disebut “tanah surga”, negara agraris dengan letak geografis yang strategis dengan luas sekitar 1.919.440 km. Memi...