Tuesday, May 5, 2020

Kaca Mata Pandang Aswaja Mengenai Gender


Kaca Mata Pandang Aswaja Mengenai Gender


Oleh: desita_twd


     Perempuan selalu saja menjadi bahan pembicaraan atau topik pembahasan, baik di ranah sosial, politik maupun ekonomi. Perempuan dianggap lebih pantas di ranah domestik (keluarga) dari pada terjun ke ranah publik. Hal ini yang menyebabkan adanya gerakan-gerakan feminisme (gerakan perempuan) untuk menggugat haknya. Berbicara perempuan tidak lepas dari gender, karena gender merupakan sebuah konstruksi sosial yang dapat dipertukarkan atau peran laki-laki dan perempuan yang bisa dipertukarkan. Di Indonesia problem (masalah) gender sering diperbincangkan terlebih mengenai masalah kesetaraan dan keadilan. Seyogianya gender lebih merujuk pada makna keadilan bukan kesetaraan, karena laki-laki dan perempuan sampai kapan pun tidak akan pernah setara. Di dalam Islam saja, Al- Quran sudah mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat bahwa perbedaan tersebut bukan sebuah bentuk diskriminasi, melainkan untuk mendukung obsesi Al-Quran guna terciptanya hubungan harmonis yang didasari dengan kasih sayang. Di PMII khususnya di KOPRI (Korps PMII Putri) mewadahi kaum perempuan yang ada di PMII dengan segala kelebihan dan kekurangannya. KOPRI mengenalkan kaderisasi formal seperti SIG atau yang bisa disebut dengan Sekolah Islam dan Gender yang mana mengenalkan hakikat gender yang tentu tidak sampai menyalahkan kodratnya perempuan yang acapkali sering didikotomi. Bahkan aswaja pun (Minhajul fikr) bagi warga PMII, manifestasinya untuk mengatasi masalah gender, bukan bahan untuk mendikotomi.



Aswaja Sebagai Minhaj Al-Fikr

     Aswaja sebagai minhaj al-fikr (landasan berpikir) di PMII. Secara basis intelektual kita harus berlandaskan pada 4 prinsip yang ada di dalamnya supaya terhindar dari sikap sikap tatharruf (ekstrim) yang kerap kali condong ke kiri ataupun ke kanan. Ada beberapa prinsip aswaja yaitu tawasut (moderat), dimana sikap yang tidak terlalu condong ke kiri maupun ke kanan. Ketika ada suatu permasalahan, kita menggunakan prinsip moderat ini untuk mengetahui kebenarannya sehingga manifestasinya tidak terlalu membela yang satunya, dalam artian harus sama rata. Tawazun (seimbang) dimana pengetahuan harus berbekal buku dan Al-Qur’an dan juga hadist. Ketika membaca buku filsafat atau buku aliran barat kita harus menyeimbangkan dengan dasar pengetahuan Islam. Ta’adul (adil), dalam artian tidak selalu sama yaitu adil sesuai dengan proporsinya. Tasamuh (toleransi), toleransi sangat penting dalam beragama, berbangsa dan bernegara. Untuk menciptakan bangsa yang aman dan damai perlu adanya toleransi yang sangat tinggi. Mengaca pada bangsa kita yang beragam budaya, suku, agama dan rasnya. Prinsip aswaja ini sangat cocok untuk mengatasi permasalahan yang ada di dunia ini, sehingga dijadikan sebagai minhaj al-fikr.


Manifestasi Nilai Aswaja Dalam Mengatasi Masalah Gender.

     Ada beberapa prinsip aswaja yang sangat berkaitan dengan permasalahan gender. Di aswaja sudah terdapat moderat yaitu ditengah-tengah (tidak terlalu condong ke kanan maupun ke kiri). Dimana dalam gender kaum laki-laki tidak boleh mendiskriminasi kaum perempuan dan menganggap mereka lemah seperti kalau perempuan layaknya berada dirumah tidak perlu ke ranah publik. Hal itu yang dimaksud mendiskriminasi seorang perempuan. Seyogianya mereka mencari jalan tengah dari permasalahan itu bukan malah mendiskriminasi. Sama dengan prinsip Ta’adul yaitu adil sesuai dengan istilah gender yang menekankan pada keadilan. Perempuan sebenarnya tidak menuntut kesetaraan tetapi lebih kepada adil. Dimana adil ini ketika seseorang laki-laki mendapatkan pendidikan, perempuan harus sama juga. Karena Allahmenyuruh umatnya untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Setidaknya adil disini bisa membuat perempuan mendapatkan haknya. Selain itu prinsip tawazun yaitu berimbang sebagai kaum feminis, kita tidak semerta-merta mengikuti kaum feminis barat dengan teorinya yang liberal. Hal itu harus diseimbangkan dengan ajaran agama Islam, sehingga ketika menuntut hak kita sebagai perempuan tidak melebihi kodrat kita sebagai perempuan. Hal ini bertujuan agar tidak ada perpecahan dan kekerasan antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya prinsip toleransi, yaitu kita harus mempunyai toleransi yang tinggi sesama manusia. Hal ini berkaitan dengan hablum minannas, yaitu hubungan manusia dengan manusia. Dalam gender perlu adanya toleransi yang sangat tinggi antara laki-laki dan perempuan. Ketika ada perempuan menjadi seorang pemimpin, kaum laki-laki tidak perlu menjudge kaum perempuan. Karena kita sama sebagai khalifah dimuka bumi, dan dalam islami tidak ada ayat yang melarang kaum perempuan terjun dalam dunia perpolitikan. Selagi perempuan itu tidak menyalahi kodratnya sebagai perempuan hal itu sah-sah saja, dan aswaja sangat menghargai adanya gender. Oleh karena itu ketika kita menerapkan 4 prinsip aswaja ini dalam gender maka kaum laki-laki dan perempuan akan damai tidak ada perseteruan atau konflik yang mendebatkan persamaan hak atau kedudukan laki-laki dan perempuan. Karena sejatinya perempuan dan laki-laki itu sama yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.Sudah jelas bahwa gender disini lebih mengarah pada kata keadilan dimana memberikan ruang untuk perempuan. Dalam kaca mata pandang aswaja, gender diberikan ruang dan diperbolehkan, karena terdapat beberapa nilai seperti moderat, seimbang, toleransi dan juga keadilan. Nilai-nilai tersebut kemudian di manifestasikan dalam menghadapi permasalahan gender, agar tidak ada lagi perdebatan mengenai kesetaraan dan keadilan gender.

No comments:

Post a Comment

Pertambangan Ilegal, Bosissme, dan hegemoni kaum elit (Manfaat untuk siapa? derita untuk siapa?)

   Indonesia seringkali disebut “tanah surga”, negara agraris dengan letak geografis yang strategis dengan luas sekitar 1.919.440 km. Memi...