Perempuan selalu dikaitkan dengan bidang domestic yaitu kasur, dapur, sumur. Hal tersebut sudah terkonstruk dari sejak dulu, sehingga timbulah stigma-stigma negatif tentang perempuan. Dalam dunia politik perempuan jarang sekali untuk memenuhi ruang tersebut, dimana pada saat itu perempuan hanya diberikan jatah sebesar 5% dalam politik. Pada tahun 2003 terangkum dalam UU Pemilu No. 12 pasal 65 tahun 2003 dengan adanya konsep kesetaraan gender lalu diimplementasikan dengan munculnya tindakan affirmative action yaitu jatah perempuan dalam dunia politik adalah sebesar 30%. Meskipun demikian jatah 30% tersebut tidak terpenuhi dan justru perempuan hanya diajadikan sebagai pelengkap saja. Seiring berjalannya waktu sudah banyak perempuan memenuhi kouta tersebut. Didalam Al-Quran tidak ada ayat yang melarang perempuan terjun dalam dunia politik apalagi menjadi seorang pemimpin asalkan tidak menyalahi kodratnya sebagai perempuan. Karena hak perempuan dibidang politik merupakan hak syar’i. Justru mengapa kita tidak memanfaatkan hal tersebut jika dalam islampun tidak ada larangan.
Pada zaman saat ini sudah ada beberapa perempuan yang menggunakan hak berpolitik tersebut dan bahkan sudah ada yang menjadi seorang pemimpin contohnya adalah Khofifah Indar Parawansa yaitu seorang Gubernur Jawa Timur dengan gelar sarjana ilmu sosial dan ilmu politiknya di Universitas Airlangga Surabaya. Dan itu adalah bukti bahwa perempuan bisa menjadi seorang pemimpin. Sejak zaman dahulu ternyata sudah banyak perempuan terjun dalam dunia politik dan bahkan menjadi seorang pemimipin yaitu seperti Laksamana Malahayati. Tak banyak orang tahu tentang sosok perempuan tangguh dari aceh tersebut, karena kebanyakan perempuan hanya tahu sosok R.A Kartini yaitu tokoh emansipasi wanita.
Malahayati adalah pemimpin perang armada laut aceh yang pada saat itu Aceh sedang diserang oleh belanda dan portugis. Laksamana malahayati pada saat itu mengantikan posisi suaminya yang gugur dalam peperangan. Kepintaran dan taktik strategi perang yang dimilikinya mampu membawa kemerdekaan rakyat aceh dan mampu melumpuhkan pasukan Belanda dan Portugis. Malahayati sejak kecil sudah diberikan pendidikan oleh kedua orangtuanya. Hal yang membuat Malahayati yakin dan semangat ketika menjadi seorang pemimpin armada laut yaitu kata-kata dari seorang gurunya jika perempuan dan laki-laki itu sama dimata Allah Swt yaitu sama-sama memikul amanah dimuka bumi ini. Sebenarnya pemahaman gender sudah ada sejak zaman dahulu tetapi masih dikekang oleh budaya patriarki yang menyebabkan stigma-stigma negatif bermunculan tentang perempuan. Ketika dizaman sekarang sibuk membicarakan masalah keadilan gender dan emansipasi, Laksamana Malahayatilah yang sudah sejak dulu mendobrak stigma-stigma negatif tentang perempuan yang seharusnya bekerja di dapur,sumur dan juga kasur. Malahayati dengan tangguh maju dan memimpin perang bahkan menjadi seorang penegak hukum dan mengabdi sampai akhir hayatnya,
Sepatutnya sebagai perempuan kita bisa meniru perjuangan Laksamana Malahayati, dengan mengisi kouta 30% tersebut dengan kualitas yang kita miliki. Tidak hanya itu kita mampu memberikan kontribusi diberbagai bidang lainya. Tidak cukup dengan menyuarakan atau menuntut hak kita, tetapi perlu adanya pembuktian nyata bahwa perempuan itu bisa mengisi keberadaanya dengan kualitasnya diberbagai sektor dan mendobrak stigma negatif serta budaya patriarki yang masih kental. Selain itu juga Malahayati pada saat itu membuat pasukan perang yang berisikan para janda yang ditinggal suaminya gugur dalam peperangan. Mereka diajarkan keahlian dalam berperang. Seharusnya kita bisa mencontoh Laksamana Malahayati dengan mendukung gerakan perempuan dan mengasah keahlian serta intelektual mereka. Kenyataannya masih saja ada kecemburuan sesama wanita yaitu bersaing secara tidak sehat dengan bahkan menjatuhkan. Pentingnya mendukung sesama perempuan agar mereka bisa merdeka tanpa menyalahi kodratnya sebagai perempuan karena ada beberapa orang yang menyalahkan gerakan feminisme tersebut yaitu untuk menyaingi laki-laki. Perlu pemahaman mengenai gender agar tidak menjadi perempuan yang liberal.
Perjuangan Laksamana Malahayati sangat menginspirasi dan mampu dijadikan sebagai pecutan untuk perempuan agar terus mengasah intelektualnya dan mampu mengisi semua kouta di berbagai sektor baik politik dan ekonomi. Perlunya mendukung satu sama lain sesama wanita agar sama-sama merdeka. Tidak perlu takut dalam melangkah karena saatnya perempuan berubah. Buktikan jika perempuan tidak hanya bekerja dibidang domestic saja tetapi lebih dari itu.
oleh: Desita twd (Kader PMII rayon fakultas tarbiyah IAIN madura)
No comments:
Post a Comment