KHOFIFAH INDAR PARAWANSA M.Si.
MENUMBUHKAN SEMANGAT KADER KOPRI UNTUK BERPMII
Khofifah Indar Parawansa (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 19 Mei 1965; umur 54 tahun) adalah Gubernur Jawa Timur yang menjabat sejak 13 februari 2019. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Sosial Indonesia ke-27 yang menjabat sejak 27 Oktober 2014-17 Januari 2018, beliau mulai menyita lampu sorot panggung politik tanah air setelah sosoknya tampil berbicara pidato pernyataan sikap Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP) dalam sidang umumnya MPR 1998 silam. Keberanian, sekaligus kecerdasan, Parawansa dalam menghadapi kritik terhadap pelaksanaan rezim Orde baru yang tengah berkuasa sekaligus menjadikan sosoknya sebagai politikus yang sangat di segani di tanah air.
Beliau bukan hanya pernah menjabat sebagai Menteri Sosial tetapi beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Cabang PMII perempuan se-Indonesia bahkan ia mengaku cukup lama aktif di PMII sampai pernah menjabat menjadi ketua Kopri ( Korp PMII Putri) dimasa alm. Iqbal Assegaf. Sosoknya lah yang mampu menginspirasi begitu banyak perempuan di masa sekarang khususnya Kopri itu sendiri keteguhan dan keberanian bahkan kecerdasaanya untuk terus maju mampu ia capai sampai saat ini.
“saya berharap bahwa pmii tetap membawa misi-misi progresif membangun negeri dengan seluruh produktifitas yang mereka bisa lakukan sebagai seorang mahasiswa” ungkapnya", ujarnya. Hal itu menunjukkan kepedulian terhadap generasi penerusnya untuk tetap merawat nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman. Citranya dalam gerakan publik merupakan cambuk semangat bagi kader puteri di PMII agar juga ambil peran dalam berbagai sektor. Bagaimana gender bukan hanya disajikan dalam bentuk-bentuk wacana dalam ritual seremonial, namun juga gerakan dan kontribusi nyata bagi negara dan bangsa tanpa menghilangkan sisi yang melekat dalam diri perempuan. Posisi perempuan dalam ranah publik bukan lantas diberikan secara cuma-cuma atau menunggu orang lain untuk memberikannya, namun kualitas harus terus ditingkatkan agar dapat bersaing secara kompetitif. Keberadaan perempuan bukan hanya untuk menerima sisa kedudukan kaum lainnya, namun karena perempuan juga pantas mendapatkan posisi strategis dengan kualitas yang dimilikinya. Konsep patriarkal tidak bisa dilawan hanya dengan wacana gender, namun gerakan yang masif, terarah, dan konsisten.
Oleh Sahabat Titin (Kader PMII Rayon Fakultas Syariah)
No comments:
Post a Comment