Saturday, June 20, 2020

Krisis Petani dan Konversi Lahan Ancaman, Ketersediaan Pangan



Indonesia merupakan negara yang letak geografisnya berada di daerah tropis dimana matahari bersinar sepanjang tahun sehingga dapat menanam sepanjang tahun. Iklim yang sesuai untuk mengembangkan potensi pertanian. Peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional sangat penting dan strategis. Hal ini terutama karena sektor pertanian masih memberikan lapangan pekerjaan bagi sebagian besar penduduk yang ada di pedesaan dan menyediakan bahan pangan bagi penduduk. Peranan lain dari sektor pertanian adalah menyediakan bahan mentah bagi industri dan menghasilkan devisa negara melalui ekspor non migas. 


Indonesia memiliki target untuk menjadi lumbung padi dunia pada 2045 mendatang. Namun pada kenyataannya pasokan pangan masyarakat di tanah air masih dipenuhi dengan mengimpor dari negara lain seperti Thailand, Vietnam, Brazil,  bahkan Madagaskar. Sungguh kondisi yang sangat ironis mengingat pada era tahun 1980-an Indonesia pernah menjadi negara pengekspor utama beras dan sayur-mayur di wilayah Asia. Krisis jumlah petani, alih fungsi lahan pertanian dan urbanisasi yang tinggi menjadi menjadi permasalahan yang cukup serius dalam sektor pertanian. Tidak berkembangnya sektor pertanian akan berimbas pada menurunnya jumlah bahan pangan yang dihasilkan. Di sisi lain kita melihat bahwa jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hal ini tentunya akan menimbulkan ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dengan jumlah bahan pangan yang ada sehingga ancaman kekurangan pangan sangat mungkin terjadi. 


Krisis jumlah petani disebabkan oleh regenerasi SDM yang tidak berjalan dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya minat generasi muda, termasuk mereka yang terdidik. Profesi petani dianggap kurang menjanjikan sehingga generasi muda gengsi untuk mengambil profesi petani dan memilih terjun pada sektor lain misalnya sektor jasa ataupun keuangan dan sektor lain yang diangggap lebih elite. Data Statistik pertanian menunjukkan jika tiap tahunnya 2 persen orang beralih dari sektor pertanian ke profesi lain misalnya sektor jasa. Data BPS menunjukkan penurunan jumlah angkatan kerja pertanian, yaitu 34.0 persen pada 2014, 31.9 persen pada 2017, dan 29.5 persen pada 2019. Berdasarkan pendidikannya, pada 2016-2019 tenaga kerja pertanian didominasi oleh SD ke bawah, tamat PT tidak lebih dari 2 persen.


Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, kurangnya kesejahteraan yang dapat di terima jika menjalani profesi petani sehingga dianggap kurang menguntungkan dan kurang menjanjikan untuk menunjang kebutuhan hidup. Tingkat kesejahteraan petani sendiri dalam skala nasional dapat di lihat melalui Nilai Tukar Petani (NTP) selaku indikator atau alat ukur yang digunakan untuk menilainya. BPS mencatat indeks NTP pada akhir tahun 2017 berada pada level 103,05% kemudian di bulan Agustus 2018 berada pada level 102,56% yang berarti turun 0,49% selanjutnya di tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,63%. Tercermin dari rasio persentase tersebut Nilai Tukar Petani dari tahun ke tahun mengalami pasang surut, sehingga mengimplikasi pada ketidakstabilan kesejahteraan profesi petani.


Padahal peran generasi muda dalam sektor pertanian sangat diperlukan sebagai penggerak dan pelopor yang inovatif, kreatif, profesional, mandiri, mampu bersaing, serta berwawasan global dalam pembangunan dunia pertanian modern. Oleh karena itu, fenomena tersebut harus segera diatasi dengan berbagai usaha diantaranya;


pertama, dengan menanamkan kepada generasi muda bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang menarik dan menjanjikan apabila dikelola dengan tekun dan sungguh-sungguh. Lebih baik mengolah sawah yang kita miliki di desa daripada pergi mengadu nasib ke luar kota atau ke luar negeri yang kita belum tahu sama sekali kondisi dan nasib kita kelak ketika sudah sampai di tempat tujuan.


  Kedua, menanamkan kesadaran bagi generasi muda bahwa mereka senantiasa membutuhkan makanan. Supaya kebutuhan pangan terpenuhi maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan terjun di sektor pertanian.


Ketiga, pemerintah menetapkan harga beli minimal terhadap hasil pertanian. Permasalahan yang sering kita temui saat ini adalah bahwa harga jual hasil pertanian tidak sebanding dengan usaha dan modal untuk menanam dan merawat tanaman. Hal ini menurunkan semangat para petani. Mereka telah bekerja bersusah payah akan tetapi hasil yang diperoleh tidak seberapa bahkan mengalami kerugian. Dengan nasib yang dialaminya tersebut, sangat mungkin para petani ini menyarankan kepada anak cucunya supaya kelak jangan menjadi petani seperti dirinya. Hal inilah yang memicu rendahnya minat generasi muda di bidang pertanian.


Selain krisis regenerasi masalah yang dihadapi dalam sektor pertanian juga berupa konversi lahan pertanian. Banyak wilayah Indonesia memiliki potensi pertanian yang lebih tetapi terdampak pada alih konversi lahan menjadi wilayah pemukiman, salah satunya di wilayah Madura. Di samping itu, dampak konversi lahan pertanian terhadap produksi komoditas pangan berpengaruh secara negatif. 


Semakin tinggi tingkat konversi lahan, maka akan menyebabkan menurunnya produksi pangan pada komoditas makanan pokok. Apabila produksi pangan tersebut menurun, maka pasokannya akan terbatas sehingga akan menyebabkan naiknya harga komoditas pangan tersebut. Kenaikan komoditas pangan apabila terjadi secara terus-menerus maka akan memicu terjadinya inflasi. Inflasi dalam hal ini meningkatkan harga komoditas barang di pasaran sehingga (apabila diasumsikan pendapatan masyarakat tetap) maka daya beli masyarakat akan menurun. Akibat dari daya beli masyarakat yang semakin menurun akan menyebabkan masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhannya sehingga akan membawanya ke celah kemiskinan dan ketersediaan komoditas pangan dalam negeri akan menurun.


21 Juni 2020, Selamat hari Krida Pertanian
Oleh: Sri Rosana Sulhaningsih (Sekertaris Waka 1 KOPRI PC PMII Pamekasan)

2 comments:

Pertambangan Ilegal, Bosissme, dan hegemoni kaum elit (Manfaat untuk siapa? derita untuk siapa?)

   Indonesia seringkali disebut “tanah surga”, negara agraris dengan letak geografis yang strategis dengan luas sekitar 1.919.440 km. Memi...