Oleh: desita_twd
KOPRI adalah singkatan dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri dimana KOPRI ini merupakan sebuah wadah untuk anggota maupun kader putri di PMII dan diawal berproses disini kita diberikan pengetahuan, pengalaman dan belajar bersama. Berbicara KOPRI yaitu wadah semi otonom dari PMII pastinya membutuhkan yang namanya strengthening yaitu sebuah penguatan kelembagaan baik secara kelembagaan KOPRI, administrasi, sumber daya manusianya dari jenjang rayon, komisariat, maupun cabang dan bahkan kejenjang yang lebih tinggi yang perlu diperkuat dan selain itu juga memperkuat dikemitraan,
Menurut pendapat pemateri yaitu Sahabat Anita Karolina bidang hubungan internasional KOPRI PB.PMII, KOPRI saat ini belum ada keinginan untuk bemitra dengan kelembagaan perempuan yang lain yang satu tujuan atau dengan isu yang sama. KOPRI masih ingin berjalan dengan sendirinya dan hari ini sudah eranya dimana harus berkolaborasi antara organisasi satu dengan lainnya dengan isu yang sama sehingga menghasilkan suatu gerakan yang massif. Karena semakin besar kerja sama atau kolaborasi satu lembaga dengan lembaga lainnya atau organisasi lainnya maka gerakannya akan semakin massif. Ada beberapa bahkan banyak sekali gerakan yang berhubungan dengan isu-isu keperempuanan yaitu pada moment women day, hari Kartini, memperingati perjuangan Marsinah dan lainnya, dari moment tersebut banyak lembaga maupun organisasi yang concerned pada isu keperempuanan berkolaborasi untuk melakukan gerakan dalam memeperingati moment tersebut. Selain itu perlu adanya kesadaran KOPRI yaitu dengan cara advokasi untuk melakukan gerakan sosial agar ada perubahan pada perempuan karena pastinya masih ada beberapa perempuan yang tertinggal dan dikekang oleh budaya patriarki dengan stigma-stigma negatif yang terbangun yang membuat perempuan tidak bisa bergerak dan hal itu perlu adanya kolaborasi dengan kelembagaan lainnya dengan melakukan analisis internal terlebih dahulu untuk melakukan gerakan tersebut.
Hari ini kekuatan kopri berada pada jumlah kader yang menyebar dari sabang sampai merauke dan KOPRI kuat dari segi hal kuantitas. Pada kaderisasi formal PMII yaitu mapaba terkadang 40% atau 50% mayoritas kader perempuan tetapi, seiring berjalannya waktu dengan adanya seleksi alam keberadaan perempuan tersebut semakin mengerucut. Selain itu kekuatan KOPRI juga berasal dari legalitas organisasi yang jelas karena berada dibawah naungan PMII yaitu organisasi yang jelas, sehingga ketika akan bermitra dengan lembaga yang lain ini bisa menjadi legasi. Selanjutnya kekurangan KOPRI yang paling berpengaruh dan terlihat adalah lemahnya tingkat kepengetahuan kader maupun anggota di setiap level kepengurusan contohnya terkadang ada beberapa anggota maupun kader KOPRI yang masih salah paham atau tidak bisa membedakan antara gender dengan jenis kelamin dan terkadang juga salah mengartikan feminisme yaitu gerakan untuk menyaingi laki-laki. Selain itu juga masih saja ada yang tidakpahaman mengenai isu-isu keperempuan contoh ketika ada kasus pelecehan seksual mereka beranggapan disebabkan karena baju yang digunakan oleh korban atau korban yang merayu dan lain-lain, terkadang dari sesama perempuan tidak mendukung atau mensuport sesama perempuan dan justru menyalahkan. Dan korban pelecehan seksual tersebut menjadi multiple victim yaitu ketika menjadi korban pelecehan, kemudian tidak sedikit perempuan-perempuan lain yang men-judge atau semacam frame dan stigma negatif seperti itu. Lalu ketika korban tersebut membela dirinya ketika mendapatkan pelecehan seperti memukul si pelaku. Si pelaku tersebut malah melaporkan korban dengan tuduhan kekerasan, kebanyakan orang yang tidak tahu kejadiannya akan membela sipelaku dan hal itu membuat korban menjadi triple victim. Dari sinilah tugas perempuan harus meluruskan hal tersebut meskipun tidak mudah karena adanya kultur tersebut. Lemahnya pengetahuan mengenai isu-isu perempuan merupakan tantangan dan PR untuk kader KOPRI untuk memperbaiki hal tersebut.
Hal yang perlu kita lakukan untuk melakukan penguatan-penguatan baik kelembagaan secara individu, kelompok dan kemitraan, dengan menguatkan pengetahuan kita dan mengasah kualitas kita. Karena KOPRI didirikan selain sebagai wadah anggota dan kader putri PMII dengan kauntitas banyak, tetapi juga sebagai instan yang hadir untuk menyelesaikan masalah keperempuanan yang hadir dalam masyarakat. Sebagai organisasi perempuan intelektual harus bisa memetakan masalah isu-isu gender dikampus. KOPRI juga harus bisa mengerti betul kondisi perempuan baik di kampus maupun di masyarakat karena masih saja ada stigma stigma negatif dan kultur patriarki. Fakta dilapangan aktivitas advokasi sahabat kopri hanya sebatas memberikan bantuan sosial kepada masyarakat untuk mengawal kebijakan-kebijakan mengenai perempuan kita masih lemah. Contoh saat ini sedang ramai mengenai RUU PKS, kita perlu mengkaji RUU PKS dan turut mendorong mensahkan RUU PKS ini, dan bergerak dalam mengkaji hal tersebut sehingga kopri tidak di dikatakan diam tetapi ikut andil dalam permasalahan ini. Maka lembaga-lembaga lain akan memperhitungkan KOPRI sehingga menjadi bargaining position dan kopri akan muncul dengan sendirinya melalui adanya kemitraan ini. Dan lembaga-lembaga yang lain yang tidak mempunyai basis tetapi massif hal itu terjadi karena mereka concerned dan update dalam mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan keperempuanan. Sedangkan KOPRI yang sangat massif tetapi terkadang masih tertinggal dengan isu keperempuan karena kurangnya update mengenai hal tersebut.
Dalam bargaining position KOPRI sebenarnya sudah memperhitungkan baik ditingkat cabang dan PB karena berkaitan dengan kemitraan. Jika di rayon dan dikomisariat KOPRI anggota dan kader berkecimpung dalam pengembangan kaderisasinya, tetapi di cabang sudah harus mulai bermitra dengan lemabaga-lembaga yang lain. Perlu KOPRI mencoba memperluas pergaulan dengan lembaga lain yang isunya sama sehingga kita tahu dan update dengan isu keperempuan dan disertai data yang akurat.
Jadi perlu adanya berkolaborasi atau bermitra dengan organisasi dan kemitraan dengan satu isu yang sama sehingga KOPRI akan menghasilkan suatu gerakan yang massif dan hal tersebut akan berpengaruh juga dalam bargaining position dan menjadikan KOPRI terlihat dengan sendirinya tentunya dalam segi kualitas.
Materi oleh Ita Karolina (Bidang Hubungan Internasional KOPRI PB PMII)
No comments:
Post a Comment